Rahmaizar Aljaswan

Usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil. Tetaplah semangat.....

Selengkapnya
SEDIH  DI AWAL KEBAHAGIAAN (MEMORI 2 MEI 2019)

SEDIH DI AWAL KEBAHAGIAAN (MEMORI 2 MEI 2019)

Peringatan hari Pendidikan Nasional tahun ini merupakan hari yang aku tunggu - tunggu. Beda dengan tahun-tahun sebelumnya. Aku harus menyiapkan diri sejauh mungkin. Aku menyiapakan pakaian, jilbab dan segala macamnya agar aku tampil menawan. Boleh dikatakan, baju baru, jilbab baru, dan tas baru (promo ni yeee…)

Semua pakaian baru itu karena kesepakatan di kelas MWC XVI Dharmasraya, Tanggal 2 Mei 2019 ini kami dari Ikatan Penulis Dharmasraya akan lounching buku, ikut menyemarakkan hari Pendidikan Nasional. Kami ingin membuktikan kepada semua orang bahwa kami mampu menulis dan semua orang juga bisa menulis. Yang penting ada kemauan.

Hari yang ditunggu-tunggu pun datang. Aku ingin datang lebih awal dari waktu yang tertera di undangan. Seperti itu juga harapan ketua kelas kami agar bisa hadir jam 7.00 di lapangan. Aku bingung mau berangkat jam berapa dan dengan siapa. Karena jaraknya cukup jauh. Kalau bawa motor rasanya tidak kuat. Kawan-kawan di sekolah pergi bareng karena setelah upacara ada acara makan bersama. Aku mengajak teman-teman agar mau berangkat lebih pagi.

“Apa sih yang kita cari di sana kalau berangkat cepat-cepat? Paling upacara mulai juga jam 8.00!” Tutur salah seorang kawanku.

“Aku akan lounching buku nanti, kami semua penulis akan membentuk barisan tersendiri, ada yang akan kami persiapkan di sana.’ Jelasku.

“Ngak usah berangkat terlalu cepat, kita berangkat jam 7.00 saja. Dan semua yang akan pergi tunggu di rumah masing-masing,” jawab temanku yang akan bawa mobil.

Aku tidak bisa berkata apa-apa, aku nrimo saja. Tapi aku ingat kalau suamiku juga pegawai, pasti juga akan mengikuti upacara tersebut. Sedikit membujuk aku berharap aku bisa pergi bersamanya dan berangkat lebih awal. Alhamdulilah dia mau, hatiku pun bahagia.

Sesampai di lapangan, kulihat sudah ramai sekali. Aku langsung bergabung ke habitatku yang memakai baju orange batik. Aku celingak-celinguk mencari coverku. Aku ingin memegangnya sebentar saja, ingin mengusapnya. Karena cover dipesan oleh panitia jadi aku belum sempat memegang. Menurut temanku, cover tersebut sudah dipajang di depan semua. Aku tatap semua cover, ternyata benar. Cover bukuku tersenyum dari jauh melihat kehadiranku. Bahagia…

Menjelang upacara dimulai, aku melihat kesibukan di sana sini. Termasuk kesibukan di kelompokku yang ditugaskan untuk menyanyi. Sudah berkali-kali latihan paduan suara, tetapi belum juga memberikan hasil yang maksimal. Ini semua karena peserta tidak fokus. Termasuk aku. Mataku hanya tertuju kepada deretan cover buku yang berjejer di posisi paling depan. Di situ ada cover buku yang terukir namaku. Kemudian kulirik pula spanduk besar di dinding GOR yang berisi foto semua cover buku yang akan lounchig. Semua hampir berjumlah 80 buah. Aku bangga berada di dalam kelompok ini. Terasa barisan kami ini, barisan guru-guru istimewa, tambah lagi kami mengenakan baju yang berbeda dari guru lainnya.

Tiba-tiba kawanku berbisik padaku

“Uni, tengok itu. Cover uni diambil ketua kelas..”

Aku terpana kepada coverku yang diambil oleh ketua kelas yang kulihat sedari tadi sibuk mematut-matut susunan cover tersebut. Aku tercengang, sampai-sampai mulutku ternganga membentuk huruf O ketika coverku di pindahkan ke bawah meja.

“Oooh.. tidak….” Hati ini menjerit.

“Jangan simpan cover buku ku di bawah meja, Bu.., tolong kembalikan dia ke posisinya. Biarkan semua orang juga melihat cover itu. Biarlah semua orang tahu kalau aku juga penulis..” pintahku dalam hati.

Rintihanku tak terdengar oleh sang ketua, tanpa menghiraukan rasa hatiku cover itu ditinggal di bawah meja yang berisi banyak piala untuk dibagikan kepada para juara. Kemudian dengan santai ketua kelas melenggang menjauh dari meja.

Hancur sudah hatiku.

“Biar coverku jelek, biar judul buku ku tak menarik, tapi biarkanlah dia tetap terpajang ditempat yang bisa dilihat orang. Karena aku juga merasakan perjuangan yang berat dalam menyelesaikan buku itu. Sama beratnya dengan teman-teman yang lain. Kalau di bawah meja siapa orang yang akan melihat ke sana..?”

Aku pun mencari HP ku, dengan gemetar akupun mengirim pesan kepada ketua kelas yang masih berdiri di depan di dekat cover buku yang tersusun rapi. Tapi sial, pesanku tak di bukanya. Mungkin bunyi pesanku dikalahkan oleh bunyi suara protocol yang berkoar-koar memanggil para pemenang lomba untuk mengambil posisi di depan. Sepertinya piala-piala itu akan dibagikan.

Tiba-tiba diantara hiruk pikuk suasana dan lengkingan suara pemanggilan beberapa nama dari pengeras suara, namaku pun dipanggil. Denyut jantungku berhenti sesaat, benarkah itu namaku. Ku tanya pada teman yang berada di dekatku, “Benarkah tadi namaku dipanggil..?” Nama sekolahnya sama, tetapi mengapa aku dipanggil “Bapak” aku kan cantik, bukan ganteng..?

“Uni tanya saja ke depan untuk memastikan, “ saran temanku.

Belum lagi kakiku melangkah, tiba-tiba ketua kelas kembali memanggil-manggil namaku. Mengapa pula ibu ini memanggilku, coverku sudah disembunyikan Sedikit gugup akupun maju ke depan.

“Ada apa bu..? Mengapa kita dipanggil ke depan..?”

“Lihat sajalah, Ibu juga tidak tahu..”

Panitia upacara pun menyusun barisan guru-guru sang juara yang terpanggil tadi, lalu mengkonfirmasi nama setiap pesrta. Ketika sampai giliranku, panitia bertanya dengan sedikit heran,

“Maaf, ibu yang bernama Rahmaizar..?”

“Benar, Pak, Saya perempuan tulen, Pak,”

Panitia itu tesenyum, “Maaf ya, Bu, saya salah memanggil tadi.”

Aku pun membalas senyum manisnya dan mengangguk.

Protocol kembali berkoar-koar menyebutkan satu persatu yang akan menerima hadiah, tiba dinamaku ..

“Penulis buku yang paling inspiratif,…. Ibu Rahmaizar, S.Pd….dari SMP Negri 6 Pulau Punjung….. dengan judul buku “TANAH MERAH SILAGO…..”

Seeeeer.. aku ke GR – an, bangga, bingung, campur haru.

“Siapa yang memilih buku ku sebagai buku yang paling inspiratif, buk..?” bisik ku kepada ketua kelas yang juga terpilih sebagai penulis yang paling produktif karena sudah melahirkan 6 buku dalam kurun waktu 1 tahun.

“Orang Media Guru Indonesia” jawab ibu itu singkat.

Inilah kejutan yang luar biasa aku rasakan, sebagai hadiah yang paling istimewa di hari Pendidikan Nasional ini. Tidak ada tanda-tanda sedikitpun sebelumnya. Tidak ada pujian sama sekali selama ini dari sang editor seperti yang diberikan kepada buku teman-teman yang lain. Bahkan ingin memasukan iklan pun di Fanpage Facebook Media Guru Indonesiapun tak tembus-tembus. Terkadang ada rasa tidak PD atas kemampuan sendiri. Tapi alhamdulillah hari ini, Tuhan memberikan yang terindah buat aku. Ucapan selamat pun mengalir silih berganti. Terimakasih semua TIM MGI. Tanpamu aku bukan apa-apa.

Aku pun minta maaf kepada sang ketua kelas karena tadi sudah suuzan karena menyembunyikan coverku di bawah meja. Ternyata cover itu dipindahkan ke sana untuk mudah mengambilnya karena aku akan difoto dengan bupati Kab. Dharmasraya sambil memegang cover cantikku, hasil dari goresan lembut tangan sang editorku yang keren menewen itu. Alhamdulillah..

Sepenggal cerita dari penulis pemula

Dharmasraya, Mei 2019

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Ibu adalah orang bertanggung jawab terhadap kepindahan cover itu. Itulah istimewanya media guru penuh kejutan ,bunda SDH sering merasakannya, moga akan hadir kejutan lain,

04 May
Balas

Benar buk,IMG luar biasa.. Nyesallah kalau ngak sempat ikut MWC kemarin...

06 May

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali